Talenta Sains Indonesia Berpesta: OSN 2026 Tutup Pekan dengan 270 Medali
Pekan ketiga September 2026 menjadi pekan yang layak dikenang bagi dunia pendidikan Indonesia. Di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Olimpiade Sains Nasional (OSN) Jenjang Pendidikan Menengah Tahun 2026 resmi ditutup pada Sabtu, 19 September 2026, setelah berlangsung sejak 14 September. Penutupan itu bukan akhir, melainkan pintu masuk bagi para finalis menuju ajang-ajang internasional berikutnya.[3][4]
Angka-angka yang muncul dari panggung OSN tahun ini berbicara sendiri. Sebanyak 540 finalis dari 28 provinsi dan satu Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Jepang lolos ke tingkat nasional, berkompetisi pada sembilan cabang: astronomi, biologi, ekonomi, fisika, geografi, informatika, kebumian, kimia, dan matematika.[1] Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) mencatat 297.955 pendaftar, naik 12,33 persen dibandingkan 265.251 peserta pada 2025. "Artinya, setiap tahun tingkat persaingan OSN ini semakin tinggi. Luar biasa adik-adik sudah sampai tahap final," ujar Kepala Puspresnas, Maria Veronica Irene Herdjiono.[2]
Dari kompetisi itu, 45 peserta meraih medali emas, 90 medali perak, dan 135 medali perunggu. DKI Jakarta keluar sebagai juara umum dengan 82 medali, terdiri atas 21 emas, 26 perak, dan 35 perunggu. Dinas Pendidikan DKI Jakarta menyebut capaian itu sebagai buah kerja keras peserta didik, guru pembimbing, sekolah, dan seluruh pihak yang mendukung perjalanan mereka.[3][4]
Yang menarik, OSN 2026 juga membuka ruang baru bagi talenta kecerdasan artifisial. Melalui Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA), dua siswa meraih medali emas: Andra Nurhafid Nasution dari SMAN Unggulan MH Thamrin DKI Jakarta dan Giovanry Silalahi dari SMAS Unggul Del Sumatera Utara, disusul empat medali perak dan enam perunggu. Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, menegaskan arah kebijakannya: "Kecerdasan artifisial terbaik adalah kecerdasan artifisial yang membantu kemanusiaan. Karena itu, kecerdasan artifisial yang dikembangkan harus aman, transparan, adil, dan bermanfaat bagi masyarakat."[7]
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengingatkan bahwa OSN bukan sekadar perburuan medali. "Ini bukan sekadar ajang cari medali," ujarnya saat menutup acara di UMM. Menurutnya, kompetisi ini adalah ruang menemukan, mengembangkan, dan mengaktualisasikan talenta murid, sekaligus langkah awal membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas.[1][4]
Semangat itu juga dijaga dari dalam. Puspresnas mengumumkan temuan indikasi kecurangan pada tes OSN 16 dan 17 September 2026, yang disinyalir melibatkan finalis cabang ekonomi, astronomi, matematika, dan kebumian. Kementerian menyatakan akan bertindak tegas sesuai ketentuan dan memperkuat pengawasan bersama Dewan Juri Nasional. "Kami telah melakukan pemantauan dan bekerja sama dengan para Dewan Juri Nasional pada sembilan cabang ajang dan satu ekshibisi," tegas Irene. Langkah ini justru memperlihatkan bahwa prestasi hanya bermakna bila dibangun di atas integritas.[5]
Prestasi serupa mengalir dari daerah. Lima belas siswa SMA Negeri 9 Kota Malang membawa pulang 16 medali dari Student Exchange & ASEAN Olympiad 2026 di Universiti Malaysia Terengganu, 6-12 September 2026, terdiri atas tiga emas, lima perak, dan delapan perunggu di bidang Matematika, Bahasa Inggris, Biologi, dan Public Talk. Ajang itu diikuti sekitar 500 siswa dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Kamboja. Guru pendamping Iskandar menyebut pengalaman berkompetisi lintas negara sama berharganya dengan medali.[6]
Bagi sekolah-sekolah di daerah, termasuk di Banyuwangi, rangkaian capaian ini adalah kabar baik sekaligus pemicu. Pembinaan talenta yang berkelanjutan, penguatan integritas, dan pembukaan jalur talenta kecerdasan artifisial bagi murid terbukti menghasilkan generasi yang tidak hanya siap lulus, tetapi siap menghadapi dunia yang belum ada hari ini.[1][7]
Sumber: